Minggu, 22 April 2012

Penulisan Karya Tulis Ilmiah dan Penyusunan Proposal Skripsi


MAKALAH
MATA KULIAH BAHASA INDONESIA
 PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH DAN PENYUSUNAN PROPOSAL SKRIPSI 





Disusun Oleh:
                 Nunung Khusnul Khotimah            (10402241001)





PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting, berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.  Fungsi dari Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara sangat erat hubungan dengan dunia pendidikan yaitu Bahasa Indonesia sebagai pengantar di dalam dunia pendidikan serta sebagai alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.  Hal inilah yang menyebabkan transformasi ilmu dari pendidik kepada peserta didik, baik berupa lisan dan tulisan menggunakan Bahasa Indonesia.
Salah satu bentuk transformasi ilmu berupa tulisan adalah karangan ilmiah.  Jenis-jenis karangan ilmiah antara lain: makalah, kertas kerja, laporan praktik kerja, skripsi, tesis, disertasi.  Karakteristik dari karangan ilmiah adalah Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.  Namun, tak semua orang mengetahui bagaimana cara membuat metodologi penulisan yang baik dan benar, tak terkecuali para mahasiswa di Perguruan Tinggi. 
Tak mengherankan, apabila metodologi penulisan menjadi salah satu unsur penghambat dalam penulisan karya ilmiah, khususnya bagi para mahasiswa yang akan membuat tugas akhir berupa skripsi, tesis dan disertasi.  Hal inilah, yang mendorong penulis dalam makalah ini untuk membahas lebih mendalam mengenai penyajian fakta yang ditulis berdasarkan metodologi penulisan yang baik dan benar.


B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimana cara mengorganisasi karangan, mengenai penentuan tema, topik, tesis, dan  judul?
2.         Bagaimana cara penulisan bagian pendahuluan karangan?
3.         Bagaimana cara penulisan bagian isi karangan?
4.         Bagaimana cara penulisan bagian simpulan atau penutup karangan?
5.         Bagaimana cara penulisan kutipan, catatan kaki dan daftar pustaka?
6.         Bagaimana cara menyusun proposal skripsi?

C.      Tujuan
1.         Mengetahui cara mengorganisasi karangan, mengenai penentuan tema, topik, tesis, dan  judul?
2.         Mengetahui cara penulisan bagian pendahuluan karangan?
3.         Mengetahui cara penulisan bagian isi karangan?
4.         Mengetahui cara penulisan bagian simpulan atau penutup karangan?
5.         Mengetahui cara penulisan kutipan, catatan kaki dan daftar pustaka?
6.         Mengetahui cara menyusun proposal skripsi?

















BAB II
PEMBAHASAN

A.      1.  Organisasi  Karangan, Mengenai Penentuan Tema, Topik,  Tesis,  dan 
     Judul
a.         Organisasi karangan
Organisasi karangan atau kerangka karangan adalah pengelompokan dan pengamatan jenis fakta dan sifatnya menjadi kesatuan yang bertautan.  Kerangka karangan merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan  teratur.
Manfaat Kerangka Karangan:
1)        Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
2)        Untuk menyusun karangan secara teratur.  Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
3)        Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula  sekian macam sehingga tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
4)        Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Hal yang demikian ini tidak dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi akan diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan menunjuk kepada bagian tadi.
5)        Memudahkan penulis mencari materi pembantu.  Dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangannya itu.
Pola Susunan  Kerangka Karangan
1)        Pola Alamiah Susunan atau pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Sebab itu susunan alamiah dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian utama, yaitu berdasarkan urutan ruang, urutan waktu, dan urutan topik yang ada.
2)        Pola Logis Pola logis berdasar urutan:
a)        klimaks – anti klimaks
b)        umum – khusus
c)        sebab – akibat
d)       proses
Macam-macam Kerangka Karangan
Berdasar Sifat Rinciannya:
1)        Kerangka Karangan Sementara / Non-formal:
cukup terdiri atas dua tingkat, dengan alasan:
a)        topiknya tidak kompleks
b)        akan segera digarap
2)        Kerangka Karangan Formal:
terdiri atas tiga tingkat, dengan alasan:
a)    topiknya sangat kompleks
b)    topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap
Kerangka karangan adalah pengelompokan dan pengamatan jenis
fakta dan sifatnya menjadi kesatuan yang bertautan.
Contoh organisasi karangan:
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Pembatasan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Kerangka Teori
1.5 Sumber Data
1.6 Sistematika Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 …
2.2 …
BAB III METODE PENELITIAN DAN KAJIAN
3.1 …
3.2 …
BAB IV ANALISIS DATA
4.1 …
4.2 …
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 …
5.2 …
RAGANGAN SKRIPSI SEMENTARA
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR KAMUS
LAMPIRAN DATA

b.        Penentuan Tema
Tema berasal dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Tema adalah sesuatu yang menjiwai cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Dalam tema tersirat amanat atau tujuan pengarang menulis cerita. Tema dalam cerpen dapat terjabar dalam setiap satuan peristiwa dalam cerita, misalnya melalui tingkah laku atau jalan hidup pelakunya. 
Tema juga dapat berarti ide dasar, ide pokok atau gagasan yang menjiwai seluruh karangan yang disampaikan.  Ada beberapa contoh tema misalnya Tema Kemerdekaan, Tema Ramadhan, Tema Idul Fitri, Tema Natal, Tema Global Warming, Tema Penghijauan, Tema Sekolah, Tema Tempo dulu dan lain sebagai nya. 
Tema adalah sesuatu yang menjiwai cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Dalam tema tersirat amanat atau tujuan pengarang menulis cerita.  Dalam karang mengarang, tema adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan oleh penulis.

c.         Penentuan Topik
Topik adalah berasal dari bahasa Yunani “topoi” yang berarti tempat, dalam tulis menulis berarti pokok pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan suatu artikel.  Lima syarat dalam memilih topik.:
1)        Topik itu ada manfaatnya dan layak untuk dibahas.
2)        Topik itu cukup menarik terutama bagi penulis.
3)        Topik itu dikenal baik oleh penulis.
4)        Bahan yang diperlukan diperkirakan dapat diperoleh dan cukup memadai.
5)        Topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Cara memilih topik yang baik dalam karya ilmiah adalah sebagai
berikut:
1)        Topik itu sudah dikuasai
2)        Topik itu paling menarik perhatian
3)        Topik itu ruang lingkupnya terbatas
4)        Data itu objektif
5)        Memiliki prinsip-prinsip ilmiah (ada landasan teori atau teori-teori sebelumnya
6)        memiliki sumber acuan

Pembatasan topik:
Setelah topik berhasil dipilih, maka topik tersebut harus dibatasi agar tidak terlalu luas. Proses pembatasan topik dapat dilakukan dengan cara membuat diagram jam atau dengan diagram pohon. Untuk membuat diagram jam, topiknya diletakkan di tengah, kemudian diturunkan beberapa topik yang lebih sempit. Sedangkan untuk membuat diagram pohon, topiknya disimpan di atas kemudian diturunkan cabang-cabangnya ke bawah. Tiap cabang mungkin diturunkan lagi menjadi cabang-cabang yang lebih sempit lagi, dan begitu juga cabang-cabang selanjutnya.

d.        Penentuan Tesis
Tesis adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang memuat gagasan pokok atau pikiran tulisan. Dari tesis ini pembaca dapat melihat arah tulisan yang akan dibacanya. Tesis berbeda dengan gagasan pokok, tesis menambahkan elemen lain: sebuah interpretasi atau penilaian berkenaan dengan informasi yang didiskusikan, sebuah  penilaian yang mungkin tidak akan selalu disetujui semua orang. Jadi, disamping membatasi dan memprediksi informasi yang mungkin akan berkembang, membuat kalimat tesis berarti membuat pernyataan mengenai topik atau pokok gagasan yang akan penulis dukung, dengan memberikan bukti-bukti ‘kebenaran’ dari pernyataan. 
Tesis yang berhubungan dengan topik tentang rintangan untuk komunikasi yang baik, yang berbeda dari sekadar gagasan pokok untuk topik yang sama, akan lebih dari sekadar menyajikan hal-hal yang jelas dengan sendirinya atau informasi yang umum diketahui berkenaan dengan topik ini. Tesis membuat penilaian mengenai sejumlah aspek tertentu—sebuah penilaian yang tidak jelas dengan sendirinya dan yang karena itu harus dibuktikan kepada pembaca. Contoh perbandingan gagasan pokok dan tesisnya adalah sebagai berikut:
Gagasan pokok: Terdapat tiga jenis rintangan yang menghalangi komunikasi yang baik: fisik, manusia dan semantik
Tesis: Dari ketiga rintangan untuk komunikasi—fisik, manusia, dan semantik—yang paling sulit disembuhkan barangkali  adalah rintangan keterbatasan manusia.
Contoh tesis adalah sebagai berikut. Bahasa Sunda yang dipakai dalam komunikasi pembangunan banyak terpengaruh oleh bahasa lain, sehingga banyak kata-kata yang belum berterima. Oleh sebab itu, perlu pembenahaan agar bahasa itu tetap terpelihara dan berkembang dalam kehidupan sekarang ini.
Dari tesis tersebut, pembaca dapat memperkirakan bahwa uraian selanjutnya akan mencakup:
1)        Uraian tentang kata-kata yang dipakai dalam komunikasi pembangunan.
2)        Telaah tentang kata-kata tersebut secara etimologi dan secara semantik.
3)        Uraian tentang sikap terhadap pemakaian kata-kata tersebut.
4)        Saran pembinaan terhadap bahasa Sunda agar tetap terpelihara dan berkembang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman.
Untuk menyusun tesis, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1)        Tesis yang baik harus dapat meramalkan, mengendalikan, dan mengarahkan penulis dalam mengembangkan karangan.
2)        Tesis yang baik harus dinyatakan dalam kalimat leng-kap; tidak boleh dinyatakan dalam bentuk frase.
3)        Tesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan; tidak boleh dalam bentuk kalimat pertanyaan.
4)        Tesis tidak boleh mengandung unsur-unsur yang tidak berkaitan; bagian-bagian tesis harus saling berhubungan.
5)        Tesis harus terbatas; tidak boleh terlalu luas.
6)        Tesis tidak boleh mengandung ungkapan yang akan mmelemahkan argumentasi seperti ungkapan "menurut pendapat saya", "saya duga", dan "saya kira",.
7)        Tesis tidak boleh dinyatakan dengan bahasa yang tidak jelas.
8)        Tesis tidak boleh dinyatakan dengan kata kiasan.


e.         Penentuan Judul
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain; identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersifat menjelaskan diri dan yang manarik perhatian dan adakalanya menentukan wilayah (lokasi). Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. 
Ada yang mendefinisikan judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.
Judul karangan harus sesuai dengan topik atau isi ka-rangan beserta jangkauannya dan  sebaiknya dinyatakan dalam bentuk frase bukan dalam bentuk kalimat.   Judul karangan diusahakan sesingkat mungkin dan harus dinyatakan secara jelas.
Adapun syarat-syarat dalam pembuatan judul adalah sebagai berikut:
1)        Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
2)        Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan keinginan tahu dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan.
3)        Harus singkat, yaitu tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangklaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata.
Judul terbagi menjadi dua,yaitu :
1)        Judul langsung
Judul yang erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubu ngannya dengan bagian utama nampak jelas.
2)        Judul tak langsung :
Judul yang tidak langsung hubungannya dengan bagian utama berita tapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.
Adapun fungsi judul adalah sebagai berikut :
1)        Merupakan identitas/cermin dari jiwa seluruh karya tulis.
2)        Temanya menjelaskan diri dan menarik sehingga mengundang orang untuk membacanya atau untuk mempelajari isinya.
3)        Merupakan gambaran global tentang arah, maksud, tujuan, dan ruang lingkupnya.
4)        Relevan dengan isi seluruh naskah, masalah maksud,dan tujunnya.

Judul dapat dikatakan sebagai jabaran topik atau tema. Karena itu judul harus mempu mencerminkan topik atau tema, tidk boleh menyimpang dari intinya. Itulah sebabnya memilih judul tidak selalu gampang.  Cara menulis judul adalah dengan menentukan kerangka karangan dengan pembatasan topik.
Contoh:
topik : perkantoran
masalah apa : kepegawaian
mengapa : pengawasan
di mana : Pemda Jawa Barat
waktu : tiga bulan
kajian : praktik/penerapan
Contoh judul:  Fungsi Pengawasan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Pegawai di Lingkungan Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Barat

Syarat judul yang baik adalah sebagai berikut:
1)        harus bebentuk frasa,
2)        tanpa ada singkatan atau akronim,
3)        awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi,
4)        tanpa tanda baca di akhir judul karangan,
5)        menarik perhatian,
6)        logis, dan
7)        sesuai dengan isi.

Jika ada kata kerja atau predikat dalam judul karangan, kata kerja
tersebut harus diubah menjadi kata benda.
Contoh:  mengawasi menjadi pengawasan, berfungsi menjadi fungsi atau menjadi peranan, dan bermanfaat menjadi pemanfaatan.
Contoh:
Pupuk Cair Organik Berfungsi untuk Meningkatkan Produksi Padi
(Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung
Seharusnya:
Fungsi Pupuk Cair Organik dalam Upaya Peningkatan Produksi
Padi (Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung
atau
Peranan Pupuk Cair Organik dalam Upaya Peningkatan Produksi
Padi (Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung
Predikat (kata kerja) dalam judul tersebut tidak ada lagi.
Dalam penetapan judul, pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara: (1) jika penelitian itu bersifat kualitatif, judul bisa dirumuskan dari perasan hasil temuan yang telah ada; (2) jika penelitian itu bersifat kuantitatif, maka judul telah ditentukan secara deduktif dan menggambarkan masalah yang akan diteliti. Apapun proses penetapan judul yang dilakukan (induktif atau deduktif), maka hendaknya judul jangan terlalu luas cakupannya atau sebaliknya terlalu sempit.
Judul yang terlalu luas, misalnya, “Pengaruh Islam dalam Pembinaan Moral Bangsa di Indonesia”. Demikian juga judul penelitian juga jangan bersifat simbolik, terlalu abstrak atau mungkin puitis. Misalnya judul “Masjid dan Pasar”, “Tasbih dan Golok” mungkin maksudnya dialektika antara moralitas dan sistem perdagangan bebas, atau pola relasi kekuasaan antara Kyai dan Jawara, tetapi judul semacam ini, di samping terlalu simplistik juga terlalu luas. Judul yang baik, di luar memperlihatkan korelasi antara variable secara jelas, juga, mencerminkan arah penelitian yang akan dilakukan.
Judul yang terlalu sempit seperti “Pengaruh Profesionalisme Guru terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas Satu A Aliyah Negeri, Makassar”. Judul semacam ini di samping terlalu sempit cakupannya, juga tidak problematik sebagai bahan penelitian. Tanpa penelitian pun sudah diketahui bahwa profesionalitas guru akan memiliki pengaruh atas hasil belajar siswa. Jadi, dalam pembuatan judul, di luar harus diperhatikan skopenya, yang lebih penting adalah apakah judul telah mencerminkan masalah yang membutuhkan penelitian.


2.  Penulisan Bagian Pendahuluan Karangan 
Pendahuluan adalah bab I karangan. Tujuan utama pendahuluan adalah menarik perhatian pembaca, memusatkan perhatian pembaca terhadap masalah yang dibicarakan, dan menunjukkan dasar yang sebenarnya dari uraian itu. Pendahuluan terdiri dari latar belakang, masalah, tujuan pembahasan, ruang lingkup masalah, pembatasan masalah, landasan teori, dan metode pembahasan. Kesuluruhan isi pendahuluan mengantarkan pembaca kepada materi yang akan dibahas, dianalisis-sintesis, dideskripsi, atau diuraikan dalam bab kedua sampai bab terakhir.
Untuk menulis pendahuluan yang baik, penulis perlu memperhatikan pokok-pokok yang harus tertuang dalam masing-masing unsur pendahuluan sebagai berikut.
a.         Latar Belakang Masalah
Bagian ini merupakan landasan dan pendorong (motivator) bagi :
1)        Peneliti untuk melakukan penelitian dan penulisan skripsi.
2)        Pembaca (orang lain) untuk membaca lebih lanjut.  Oleh karena itu, latar belakang ini harus berisikan hal-hal yang menarik minat pembaca.
Pada bagian ini, diuraikan tentang :
1)        Masalah yang akan diteliti,
2)        Penjelasan tentang dipilihnya masalah ini bagi penulis atau pun bagi orang lain
3)        Argumentasi yang logis antara data (realitas) dan teori (harapan) sehingga kesenjangan ini menimbulkan rumusan permasalahan.
4)        Penalaran (alasan) yang menimbulkan masalah atau pertanyaan yang akan diuraikan jawabannya dalam bab pertengahan antara pendahuluan dan kesimpulan dan dijawab atau ditegaskan dalam kesimpulan. Untuk itu, arah penalaran harus jelas, misalnya deduktif, sebab-akibat, atau induktif.
5)        Kegunaan praktis hasil analisis, misalnya: memberikan masukan bagi kebijakan pimpinan dalam membuat keputusan, memberikan acuan bagi pengembangan sistem kerja yang akan datang.
6)        Pengetahuan tentang studi kepustakaan, gunakan informasi mutakhir dari buku-buku ilmiah, jurnal, atau internet yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penulis hendaklah mengupayakan penggunaan buku-buku terbaru.
7)        Pengungkapan masalah utama secara jelas dalam bentuk pertanyaan, gunakan kata tanya yang menuntut adanya analisis, misalnya: bagaimana...., mengapa.....
8)        Tidak menggunakan kata apa karena tidak menuntut adanya analisis, cukup dijawab dengan ya atau tidak.

b.        Ruang Lingkup Masalah atau Rumusan Masalah
Ruang lingkup masalah berisi tentang pembatasan masalah yang akan dibahas. Ruang lingkup masalah meliputi :
1)        Identifikasi Masalah atau Pembatasan Masalah
Identifikasi masalah bertujuan untuk membatasi atau menajamkan pokok permasalahan sehingga kajian atau pembahasannya tidak terlalu luas dan abstrak. Identifikasi masalah bisa memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian karena pokok permasalahannya menjadi lebih sempit (fokus). Identifikasi masalah harus disajikan dalam bentuk pertanyaan.
2)        Rumusan detail masalah yang akan dibahas.
Definisi atau batasan pengertian istilah yang tertuang dalam setiap variabel. Pendefinisian merupakan suatu usaha yang sengaja dilakukan untuk mengungkapkan suatu benda, konsep, proses, aktivitas, peristiwa, dan sebagainya dengan kata-kata.

c.         Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sasaran yang akan dicapai atau dihasilkan dalam penelitian ini, sedangkan kegunaan penelitian merupakan penegasan tentang manfaat yang akan dicapai baik secara teoretis maupun secara praktis.
Tujuan penulisan berisi:
1)        Target, sasaran, atau upaya yang hendak dicapai, misalnya: mendeskripsikan hubungan X terhadap Y; membuktikan bahwa budaya tradisi dapat dilestarikan dengan kreativitas baru; menguraikan pengaruh X terhadap Y.
2)        Upaya pokok yang harus dilakukan, misalnya: mendeskripsikan data primer tentang kualitas budaya tradisi penduduk asli Jakarta; membuktikan bahwa pembangunan lingkungan pemukiman kumuh yang tidak layak huni memerlukan bantuan pemerintah.
3)        Tujuan utama dapat dirinci menjadi beberapa tujuan sesuai dengan masalah yang akan dibahas. Jika masalah utama dirinci menjadi dua, tujuan juga dirinci menjadi dua.


d.        Landasan Teori
Landasan teori menyajikan:
1)        Deskripsi atau kajian teoritik variabel X tentang prinsip-prinsip teori, pendapat ahli dan pendapat umum, hukum, dalil, atau opini yang digunakan sebagai landasan pemikiran kerangka kerja penelitian dan penulisan sampai dengan kesimpulan atau rekomendasi.
2)        Penjelasan hubungan teori dengan kerangka berpikir dalam mengembangkan konsep penulisan, penalaran, atau alasan menggunakan teori tersebut.

e.         Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Kerangka teori berisikan prinsip-prinsip teori yang memengaruhi dalam pembahasan. Prinsip-prinsip ini berguna untuk memberikan arahan dan langkah untuk membahas masalah yang akan diteliti. Kerangka teori ini harus menggambarkan tata kerja teori tersebut. Contoh: Dalam teori ini, akan digunakan teori-teori yang relevan dengan masalah yang akan dikaji. Untuk mengkaji bentuk dan makna afiks verba, digunakan teori Badudu (1992), Tadjuddin (1993), Alwi dkk. (1993), Purwo (1998), dan Sudaryanto (1994). Untuk mengkaji verba, akan digunakan teori Chafe (1993), Sugono dan Indiyastini (1994).

f.          Metode dan Teknik penelitian
Penelitian ilmiah harus mempergunakan metode dan teknik penelitian. Metode penelitian adalah seperangkat alat yang tersusun secara sistematis dan logis sedangkan teknik penelitian adalah tata cara melakukan setiap langkah-langkah metode penelitian.
1)        Metode dibedakan atas dua jenis yaitu sebagai berikut.
a)        Metode kepustakaan
i.           Metode deskriptif adalah untuk menganalisis dan memaparkan data dengan apa adanya.
ii.         Metode komparatif adalah untuk membandingkan dua atau lebih sumber data yang akan diteliti
b)        Metode analisis (lapangan)
i.           Metode eksperimen di laboratorium
ii.         Metode sensus angket
iii.       Metode survai wawancara
iv.       Metode studi kasus sampel atau perbandingan data

2)        Teknis penulisan
Teknik penulisan menyajikan cara pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan kuisioner; analisis data, hasil analisis data, dan kesimpulan.
Teknik analisis meliputi:
a)        analisis kuantitatif
b)        analisis kualitatif

g.         Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ialah objek penelitian atau tempat penelitian dilaksanakan. Lamanya penelitian dapat dilakukan dengan membuat rencana atau jadwal kegiatan penelitian.

h.        Sumber Data
Suatu penelitian ilmiah harus menyajikan sekaligus memaparkan sumber data. Sumber data ini merupakan bahan yang diteliti. Jika penelitian ini berasal dari buku. Misalnya, novel, majalah, surat kabar, tabloid, identitas sumber data tersebut harus dicantumkan. Jika sumber data itu banyak dan beragam, dapat digunakan sample dan populasi. Dalam sampel dapat diambil satu contoh data untuk dijadikan bahan percobaan atau perhitungan, sedangkan populasi adalah kumpulan seluruh data yang akan diteliti.
Sumber data penulisan berisi:
1)        Sumber data sekunder dan data primer.
2)        Kriteria penentuan jumlah data.
3)        Kriteria penentuan mutu data.
4)        Kriteria penentuan sample.
5)        Kesesuaian data dengan sifat dan tujuan pembahasan.

i.           Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan berisi:
1)        Gambaran singkat penyajian isi pendahuluan, pembahasan utama, dan kesimpulan.
2)        Penjelasan lambang-lambang, simbol-simbol, atau kode (kalau ada).


B.       1.  Penulisan Bagian Isi Karangan
Tubuh karangan atau bagian utama karangan merupakan inti karangan berisi sajian pembahasan masalah. Bagian ini menguraikan seluruh masalah yang dirumuskan pada pendahuluan secara tuntas (sempurna). Di sinilah terletak segala masalah yang    akan dibahas secara sistematis. Kesempurnaan pembahasan diukur berdasarkan kelengkapan unsur-unsur berikut ini:­­
a.         Ketuntasan materi:
Materi yang dibahas mencakup seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik pembahasan yang berupa data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer. Pembahasan data primer harus menyertakan pembuktian secara logika, fakta yang telah dianalisis atau diuji kebenarannya, contoh-contoh, dan pembuktian lain yang dapat mendukung ketuntasan pembenaran.
b.         Kejelasan uraian atau deskripsi
       Kejelasan uraian atau deskripsi, terdiri dari:
1)        Kejelasan konsep
Konsep adalah keseluruhan pikiran yang terorganisasi secara utuh, jelas, dan tuntas dalam suatu kesatuan makna. Untuk itu, penguraian dari bab ke sub-bab, dari sub-bab ke detail yang lebih rinci sampai dengan uraian perlu memperhatikan kepaduan dan koherensial, terutama dalam menganalisis, menginterpretasikan (manafsirkan) dan menyintesiskan dalam suatu penegasan atau kesimpulan. Selain itu, penulis perlu memperhatikan konsistensi dalam penomoran, penggunaan huruf, jarak spasi, teknik kutipan, catatan pustaka, dan catatan kaki.
2)        Kejelasan bahasa
                 Kejelasan dan ketetapan pilihan kata yang dapat diukur kebenarannya. Untuk mewujudkan hal itu, kata lugas atau kata denotatif lebih baik daripada kata konotatif atau kata kias (terkecuali dalam pembuatan karangan fiksi, kata konotatif atau kata kias sangat diperlukan)
                 Kejelasan makna kalimat tidak bermakna ganda, menggunakan struktur kalimat yang betul, menggunakan ejaan yang baku, menggunakan kalimat efektif, menggunakan koordinatif dan subordinatif secara benar.
                 Kejelasan makna paragraf dengan memperhatikan syarat-syarat paragraf: kesatuan pikiran, kepaduan, koherensi (dengan repetisi, kata ganti, paralelisme, kata transisi), dan menggunakan pikiran utama, serta menunjukkan adanya penalaran yang logis (induktif, deduktif, kausal, kronologis, spasial).
3)        Kejelasan penyajian dan fakta kebenaran fakta
                 Kejelasan penyajian fakta dapat diupayakan dengan berbagai cara, antara lain: penyajian dari umum ke khusus, dari yang terpenting ke kurang penting; kejelasan urutan proses. Untuk menunjang kejelasan ini perlu didukung dengan gambar, grafik, bagan, tabel, diagram, dan foto-foto. Namun, kebenaran fakta sendiri harus diperhatikan kepastiannya.

Unsur dari bagian isi karangan yaitu:
a.         Kajian Teori
                   Bab ini berisikan uraian tentang teori-teori yang relevan dengan masalah yang dibahas atau diteliti. Bisa saja, penelitian-penelitian terdahulu dapat melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian selanjutnya. Dalam bab ini, disertakan alasan-alasan yang logis. Dengan demikian, penulis dapat menolak, menerima, mempertanyakan, atau menguatkan teori yang sudah ada. Teori yang dijadikan acuan hendaknya kepustakaan atau hasil penelitian yang mutahir dengan berusia 5 tahun kebelakang, tetapi apabila teori lama masih relevan, pendapat tersebut masih bisa dipakai.
b.         Objek Penelitian
                   Dalam bab ini, dijelaskan keadaan lokasi penelitian atau objek penelitian secara singkat (bergantung pada kebutuhan penelitian). Hal hal yang perlu dijelaskan dalam bab ini yaitu (a) sejarah objek penelitian, (b) struktruk organisasi, dan (c) kegiatan objek penelitian.
c.         Pembahasan (Analisis Data)
                   Bab pembahasan data merupakan bab yang paling penting dalam penulisan karya ilmiah karena dalam bab ini dilakukan kegiatan analisis data, sintetis pembahasan, interpretasi penulis, pemecahan masalah, dan penemuan pendapat baru yang diformulakan (bila ada).  Bab ini juga merupakan analisis atas pembatasan masalah dan tujuan penelitian yang telah disebutkan pada bab pendahuluan. Oleh karena itu, pembahasan ini harus konsisten dan relevan dengan bagian sebelumnya.



Hal-hal lain yang harus dihindarkan dalam penulisan karangan (ilmiah):
a.         Subjektivitas dengan menggunakan kata-kata: saya pikir, saya rasa, menurut pengalaman saya, dan lain-lain.  Atasi subjektivitas ini dengan menggunakan: penelitian membuktikan bahwa…, uji laboratorium membuktikan bahwa…, survei membuktikan bahwa…,
b.         Kesalahan: pembuktian pendapat tidak mencukupi, penolakan konsep tanpa alasan yang cukup, salah nalar, penjelasan tidak tuntas, alur pikir (dari topik sampai dengan simpulan) tidak konsisten, pembuktian dengan prasangka atau berdasarkan kepentingan pribadi, pengungkapan maksud yang tidak jelas arahnya, definisi variabel tidak (kurang) operasional, proposisi yang dikembangkan tidak jelas, terlalu panjang, atau bias, uraian tidak sesuai dengan judul.

2.  Penulisan Bagian Simpulan atau Penutup Karangan
Pada bagian isi, penulis menyusun gagasan-gagasan karangan menjadi beberaapa bagian atau bab dengan memperhatikan ketersambungan antar paragraf dan gaya bahasa yang enak dibaca oleh pembaca.
Pentingnya kalimat penutup dalam suatu karangan karena:
a.         Penulisan bagian yang akhir yang baik akan mengantarkan sumbangan utama kita kepada focus
b.         Bagian akhir adalah bagian yang sangat diperhatikan. Pembaca biasanya membaca sekilas atau sebagian saja tentang tubuh makalah, tetapi mereka membaca dengan teliti bagian akhir makalah
c.         Kebanyakan pembaca berharap kita akan menerangkan hasil-hasil keseluruan kerja secara singkat dan mudah di baca pada bagian akhir.

Bagian-bagian umum dalam suatu penutup karangan:
a.        Iktisar
Iktisar sebagai bagian akhir merupakan ringkasan atau pokok-pokok isi makalah. Beberapa kalimat yang tetap akan memberikan gambaran yang jelas tentang topic yang dibahas.  Penutup semacam ini hanya cocok untuk makalah tutorial atau deskriptif, seperti laporan perkembangan bidang kajian, gambaran perangkat atau system, dan pengajaran bidang sains atau rekayasa.
Iktisar adalah cara mengulangi inti makalah agar pembaca dapat mencapai kesimpulan yang diharapkan. Makalah yang baik selalu mengakhiri dengan penutup dengan ringkasan yang baik, mendukung, dan menguatkan konsep utama dalam makalah.
Iktisar harus bersifat membedakan dan menjelaskan, yaitu membedakan bagian inti dari yang bukan inti serta menjelaskan hasil-hasil yang dapat dalam prefektif yang tepat. Dibandingkan dengan intisari dan pendahuluan, bagian intisari harus berisi sifat-sifat yang penting dari hasil-hasil, perangakat atau system yang dikerjakan capaian yang menuju hasil pekerjaan, atau iktisar asas-asas keilmuan atau rekayasa. Semua itu ditulis secara ringkas, bernas, dan jelas. Iktisar yang tidak berisi hal-hal penting isi makalah, akan menimbulkan kesan negative pada pembaca. Meraka akan mendapat kesan bahwa penulis hanya menulis ulang semua pustaka yang dibaca, tetapi tidak tahu apa yang harus dikembangkan.
Beberapa penulis mencoba menyebutkan hasil-hasil yang meraka dapatkan dalam bentuk daftar. Hasil-hasil dapat diatur dalam urutan pentingnya, seperti dalam laporan yang sifat-sifat peralatan atau tumbuh-tumbuan. Untuk naskah yang lain, bentuk teks lebih menarik kerena susunan kalimat memungkinkan penulisannya menekankan gagasan-gagasan yang mendukung.

b.        Kesimpulan
Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis yang sudah dikemukakan. Simpulan ini diperoleh dari uraian analisis. Simpulan sebagai bagian akhir tidak hanya meringkas, melainkan juga membahas pentingnya hal-hal yang diperoleh.
Kesimpulan bisa dipakai dalam laporan pengembangan dan penelitian yang didalamnya hanya terdapat ringkasan hasil-hasil yang muncul sesuai dengan isi karangan, melainkan juga tafsirannya. Kesimpulan yang paling efektif dapat berupa hasil kerja yang telah dilakukan, dengan menyebutkan bagian-bagian yang terpenting, hasil-hasil yang tetap, dan alasan mengapa hasil yang didapat  bias dikatakan sahih.
Agar kesimpulan menyakinkan dan dapat dipercaya, kita harus menyertakan beberapa hasil yang kurang baik, memandingkan hasil yang seharusnya, dan menyebutkan sebab-sebab terjadinya kemesletan. Beberapa karangan juga menuliskan hasil-hasil yang berupa ramalan dan menyebutkan beberapa penerapannya.
Kadang pula sering ditemukan atau sering dijumpai simpulan yang menggunakan nomor (1 2 3 4 5 dan seterusnya), yang seolah-olah merupakan kalimat yang terlepas-lepas. Simpulan seperti ini kurang baik karena terasa kaku. Simpulan lebih baik dan lebih informative jika disajikan dalam pragraf-paragraf yang tidak dinomori.
Pada akhir kesimpulan laporan internal biasanya diberikan penghargaan dalam bentuk pengakuan untuk bantuan yang telah diperoleh penulis dalam menyelesaikan pekerjaan. Bantuan ini merupakan bagian suatu program kerja yang lebih besar, misalnya pemberian bantuan dalam analisis matematis, perhitungan computer dari perancangan parameternya, model-model pengujian atau bahkan lampiran program computer sebagai pengembangan penerapan. Dalam simpulan karangan yang diterbitkan umum, seperti jurnal, atau skripsi penghargaan untuk bantuan kerja tidak usah dicantumkan.


c.         Saran
Saran adalah bagian akhir yang cocok untuk topic-topik yang berkenaan dengan perunutan persoalan-persoalan sains dan rekayasa atau analisis situasi yang sudah ada untuk menentukan tindakan yang terbaik. Contohnya, usulan proyek di bidang sains dan rekayasa, pemecahan masalah, dan prosedur analisis kesalahan.
Menulis saran merupakan pekerjaan yang berhubungan dengan kemampuan analisis penulis. Dengan analisisnya itu diharapkan penulis dapat mempengaruhi pembaca untuk menyetuji dan mengakui konsep yang dijabarkan.


3.  Penulisan Kutipan, Catatan Kaki dan Daftar Pustaka
a.         Penulisan Kutipan
Dalam menulis, tidak jarang kita mengutip pendapat atau karya orang lain. Bahan-bahan yang diasukkan sebagai kutipan antara lain bahan yang tidak atau belum menjadi pengetahuan umum, misalnya hasil-hasil penelitian terbaru, data atau fakta yang tidak atau jarang diketahui umum, dll. Pendapat pribadi dan pendapat atau pengetahuan umum seperti bumi berotasi mengelilingi matahari, tumbuhan berbiji belah beakar tunggang, unggas bekembang biak dengan bertelur, dll. Tidak perlu dimasukkan sebagai kutipan.
Pengutipan adalah proses meminjam pendapat para ahli dalam disiplin tertentu baik langsung atau pun tidak langsung yang dituangkan dalam karya ilmiah. Hasil pengutipan karya ilmiah disebut  kutipan. Fungsi kutipan adalah (a) sebagai bukti untuk menunjang pendapat penulis dan (b) sebagai bukti tanggung jawab penulis.
Dalam mengutip kita harus menyebutkan sumbernya. Maksud penyebutan sumber adalah :
1)        Sebagai pernyataan hutang budi kepada orang yang pendapatnya dikutip.
2)        Sebagai pembuktian akan kebenaran kutipan tersebut.
Cara penyebutan sumber kutipan ada dua, yaitu sistem catatan kaki dan sistem catatan langsng (catatan perut ). Kita harus memilih salah satu dan harus konsisten.
Jenis-jenis kutipan:
1)        Kutipan Langsung
Kutipan langsung ialah kutipan yang sama persis dengan teks aslinya, tidak boleh ada perubahan. Kalau ada hal yang dinilai salah atau meragukan, kita beri tanda (sic!), yang artinya kita sekedar mengutip sesuai dengan aslinya dan tidak bertanggung jawab atas kesalahn itu. Demikian juga kalau kita melakukan penyesuaian ejaan, memberi huruf garis bawah atau huruf miring, kita perlu menjelaskan hal tersebut, misal : (huruf miring dari pengutip), (ejaan disesuaikan degan EYD), dll.
a)        Penyebutan sumber dengan catatan kaki
Contoh :
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan erpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan. “... pengetahuan yang disamakanNya (sic!) itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi.”1)
   ...............................uraian lebih lanjut....................................
......................................................................................................................................................

1)  Hadari Nawawi,  Metode Penelitian Bidang Sosial (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1985), hlm. 4.
Keterangan:
                                                                    i.            Kutipan langsung sebanyak-banyaknya empat baris ditulis menyatu dengan teks yang kita buat.
                                                                  ii.            Jika dalam mengutip ada bagian kalimat yang dihilangkan, bagian itu diganti dengan tanda elipsis (...).
                                                                iii.            Isi catatan kaki di atas adalah : nama pengarng, judul buku, kota tempat terbit, nama penerbit, tahun terbit, halaman yang dikutp.
                                                                    iv.         Judul buku ditulis degnan huruf garis bawah atau huruf miring.
Jika teks yang dikutip langsung lebih dari empat baris, tata caranya perhatikan contoh berikut:
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan erpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan.
“... pengetahuan yang disamakanNya (sic!) itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi. Dengan kata lain bahwa sesuatu yang disampaikan itu halnya memeang demikian dan harus demikian, tidak mungkin lain. Keenaran itu merupakan kebenaran mutlak ....”1)
...................................................................................................
.....................................uraian lebih lanjut................................

1)  Hadari Nawawi,  Metode Penelitian Bidang Sosial (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1985), hlm. 4.
Keterangan :
                                                                        i.          Kutipan tidak disatukan degan teks, tetapi dipisah dengan jarak 2,5 spasi
                                                                      ii.          Ditulis dengan spasi rapat (satu spasi)
                                                                    iii.          Ditulis menjorok ke kanan 5 karakter, dan alinea baru berarti emnjorok ke kanan 10 karakter
                                                                    iv.          Boleh diapit tanda kutip boleh juga tidak
                                                                      v.          Pada akhir kutipan diberi nomor penunjukan (untuk diberi penjelasan pada cattan kaki ), atau diberi catatan langsung (catatan perut)
b)        Penyebutan sumber dengan catatan langsung (catatan perut)
Contoh :
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan erpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan. “... pengetahuan yang disamakanNya (sic!) itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi.” (Nawawi, 1985:4)
     ......................................uraian lebih lanjut.............................
.....................................................................................................
Catatan :
Keterangan tentang (Nawawi, 1985:4) ada pada halaman bibliografi atau daftar pustka. Contohnya sebagai berikut:
DAFTAR PUSTAKA
............................................data buku.........................................
.....................................................................................................
.....................................................................................................
Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
....................................data buku..........................................

     Kalau teks yang dikutip langsung lebih dari empat baris, caranya sebagai berikut :
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan.
“... pengetahuan yang disamakanNya (sic!) itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi. Dengan kata lain bahwa sesuatu yang disampaikan itu halnya memeang demikian dan harus demikian, tidak mungkin lain. Keenaran itu merupakan kebenaran mutlak ....” (Nawawi, 1985:4)
.....................................................................................................
........................................uraian lebih lanjut................................

2)        Kutipan Tak Langsung (Kutipan Isi)
Dalam kutipan tak langsung kita hanya mengambil intisari pendapat yang kita kutip. Kutipan tak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit tanda petik. Penyebutan sumber dapat dibuat dengan sistem catatan kaki, dapat juga dengan sistem catatan langsung (catatan perut) seperti telah dicontohkan.Pengutipan ini dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
a)        Kutipan disatukan dengan teks;
b)        Spasi kutipan adalah dua spasi;
c)        Tidak memakai tanda petik dua;
d)       Menggunakan ungkapan  mengatakan bahwa,  menyatakan bahwa, mengemukakan bahwa, berpendapat bahwa dll;
e)        Mencantumkan nama akhir pengara ng (marga), tahun, dan halaman.

Contoh:
                        ----------------------teks----------------------         2 spasi
          -----------------------------------------------------------    
Badudu (1994: 56)  mengatakan bahwa  ………………
          …………………………………………...............     2 spasi
……………………… kutipan………………..…….....
          …………………--------------------------------------         2 spasi
          -------------------------- teks ---------------------------
           ----------------------------------------

3)        Prinsip-Prinsip Dasar
Prinsip-prinsip dasar dalam pengutipan adalah sebagai berikut.
a)        Dalam kutipan tidak dibenarkan mencantumkan judul buku.
       Contohnya :
Menurut Badudu (1994: 56) dalam bukunya  Pelik-Pelik Bhs
Indonesia  diketahui bahwa kalimat adalah ……….   
                                        (salah)
Menurut Badudu (1994:56) kalimat adalah …………                     
(benar)
b)        Nama orang dan identitas tahun  terbit dan halaman buku selalu berdekatan
Contohnya :
Badudu berpendapat
bahwa………….…………..………………………
………………………. (1994: 56)                      
(salah)
Badudu (1994: 56)………………………..                         
(benar)               
c)        Kutipan tidak dibenarkan dicetak tebal atau  dihitamkan.
d)       Penulis tidak diperkenankan un tuk mengadakan perubahan (kata -kata) dalam kutipan. Apabila ingin mengadakan perubahan, harus disertai dengan penjelasan.
e)        Apabila ada kesalahan dalam pe nulisan baik EYD atau pun ketatabahasaan, tidak diperkenankan mengadakan perubahan. Penulis boleh memberikan pendapat atau komentarnya mengenai kesalahan atau ketidaksetujuannya.
f)         Kutipan dalam  bahasa asing atau bahasa daera h harus dicetak miring.
g)        Kutipan langsung selalu memakai tanda petik dua dan diawali dengan huruf kapital. Contohnya sebagai berikut:
       Badudu (1994: 56) berpendapat, “kalimat adalah….”
h)        Kutipan dapat ditempatkan sesuai dengan kebutuhan baik di awal, tengah, atau akhir teks.
i)          Jika nama pengarang ada dua, nama akhir (marga) kedua pengarang itu ditulis. Contohnya sebagai berikut :
       Badudu (1995: 34)  berpendapat  ……                                                                          
j)          Jika nama pengarang ada tiga  tau lebih, nama akhir pengarang pertama yang ditulis dan diikuti dkk. Contohnya sebagai berikut :
       Badudu, dkk. (1996: 35) …..
k)        Kutipan dalam bentuk catatan kaki sudah tidak dipakai lagi dalam penulisan karya ilmiah karena dirasakan tidak efektif.
l)          Kutipan yang berasal dari ragam bahasa lisan seperti pidato pejabat jarang dipakai sebagai sumber acuan dalam penulisan karya ilmiah karena kebenarannya sulit dipercay a karena harus diketahui oleh orang yang bersangkutan  (rawan kesalahan kutipan).
m)      Dalam pengutipan pendapat orang lain, hendaklah dilakukan variasi dalam teknik mengutip (jangan monoton) seperti kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.
n)        Apabila kutipan itu dirasakan  terlalu panjang, penulis boleh  mengambil bagian intinya saja dengan teknik memakai tanda titik-titik seperti contoh berikut :
       […  ---------------------------------(Badudu, 1994:45)….]
       tetapi tidak boleh mengubah atau menggeserkan makna atau pesannya.
o)        Jika mengutip pendapat ahli yang berasal dari kutipan karya ilmiah orang lain, bentuk penyajiannya adalah sebagai berikut :
       Menurut Badudu dalam Djajasudarma (1993: 56) bahwa …..

b.        Catatan kaki
1)        Definisi Catatan Kaki
Catatan kaki, atau dikenal dengan istilah footnote adalah keterangan tambahan yang terletak di bagian bawah halaman dan dipisahkan dari teks karya ilmiah oleh seah garis sepanjang dua puluh ketukan (dua puluh karakter). 
Kegunaan catatan kaki (footnote):
a)        Menjelaskan referensi yang dipergunakan bagi pernyataan dalam teks (catatan kaki sumber atau reference footnote).
b)        Menjelaskan komentar penulis terhadap pernyataan dalam teks yang dipandang penting, tetapi tak dapat dinyatakan bersama teks karena dapat mengganggu alur tulisan.
c)        Menunjukkan sumber lain yang membicarakan hal yang sama (catatan kaki isi atau content footnote).
d)       Jenis catatan kaki ini biasanya menggunakan kata-kata: Lihat …, Bandingkan …, dan Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam …, dan sebagainya. Dianjurkan penggunaannya tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kesan pamer.  Penggunaan ungkapan tersebut perlu secara konsisten dan benar. Catatan kaki sebaiknya tidak melebihi sepertiga halaman. Sekiranya halaman tidak memungkinkan, sebagian dari catatan kaki dapat diletakkan di halaman berikutnya.
Penulisan catatan kaki adalah menggunakan angka Arab (1,2,3, dst), yang diketik naik 0,5 spasi di ujung kalimat yang dikutip. Jika sebuah kalimat memiliki beberapa catatan kaki karena memiliki terdiri dari beberapa kutipan, maka tanda catatan kaki ditempatkan sebelum tanda baca. Adapun jika kalimat hanya terdiri dari satu kutipan, catatan kaki ditempatkan sesudah tanda baca. Setiap bab memiliki catatan kaki dengan nomor urut tersendiri.
Contoh :
Abuscanto sendiri mendefinisikan ilmu sebagai “ … pengetahuan yang diperoleh melalui serangkaian proses yang dilakukan orang secara sistematis untuk membuat penemuan mengenai alam kodrati ”. Sementara itu Richter melihat ilmu sebagai metode  dan Conan memandangnya sebagai serangkaian konsep yang berasal dari pengamatan dan percobaan.
2)        Nomor Catatan Kaki
Catatan kaki diberi nomor sesuai dengan nomor kutipan dalam tiap bab dimulai dengan nomor 1 (satu).
3)        Bentuk Catatan Kaki
Dalam catatan kaki harus dicantumkan;nama pengarang, nama buku, nomor jilid, nama penerbit, tempat dan tahun penerbitan, halaman-halaman yang dikutip atau yang berkenaan dengan teks.
Contoh-contoh penulisan catatan kaki untuk :
a)        Buku
b)        Majalah
c)        Surat Kabar
d)       Karangan yang tidak diterbitkan
e)        Wawancara
f)         Ensiklopedi, dll.
Contoh-contohnya sebagai berikut :
a)        Buku
Contoh :
Maurice A. Richer, Jr. 1972. Science as a Cultural Process. Cambridge: Scheneman, h. 15. James B. Conan. 1961. Science and Common Sense. New Haven : Yale Univesity Press, h. 25.
Catatan kaki ditulis di bagian bawah naskah dengan urutan sbb: nomor catatan kaki, nama lengkap pengarang (tanpa gelar dan jangan dibalik,titik), judul tulisan (diketik miring/digaris bawahi),nama kota tempat terbit (titik dua),nama perusahaan penerbit (koma), tahun terbit (koma),nomor halaman (titik). Catatan kaki ditulis dengan jarak ketikan antar baris 1 spasi. Kalau pengarang memakai nama samaran, diantar tanda kurung besar kita cantumkan nama sebenarnya.
Contoh :
HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). 1950. Sejarah Ummat Islam. Medan; Penerbit Islamiyah, Medan, h. 47.
Untuk buku dengan pengarang sampai tiga orang dituliskan nama seluruhnya dan jika lebih dari tiga orang hanya dituliskan nama pengarang pertama dengan menambahkan kata et al ( et alii; “dengan orang lain”) dibelakangnya :
Contoh :
Sevilla Consuelo.B. 1984 (et al) An Introduction to Research Method. Philippines : Rex printing company, h. 60-67.
Untuk buku kumpulan karangan, ditulis nama editor dengan menambahkan (ed) di belakangnya :
James R.Newman (ed). 1955. What is Science? New York: Simon and Schuster, h. 30.
Untuk buku terjemahan tetap menggunakan nama pengarang asli, diikuti nama penerjemah dibelakang judul buku :
Peter F.Drucker. 1998. Inovasi dan Kewiraswastaan : Praktek dan Dasar, terjemahan Rusjdi Naib. Jakarta : Penerbit Erlangga, h.40.
Untuk buku yang tidak memiliki nama penulis dan nama editor, langsung dituliskan :
IKIP Muhamadiyah Jakarta Press. 1966. Reorientasi Ilmu pendidikan di Indonesia. Jakarta.
Untuk buku yang tidak memiliki tempat terbit, nama penerbit, dan tahun terbit, dicantumkan tt (tanpa tahun), tpn (tanpa penerbit), sebagai berikut :
Sayyid Qutub. Tt. Al-Adalat al-Ijtima’iyyah fi Al-Islam. Dar al-Kutub al-Arabi, h. 30.
b)        Majalah
Urut-urutan penulisan untuk majalah adalah; nama pengarang (seperti pada buku), judul karangan (diantara tanda kutip), nama majalah (diberi bergaris/dicetak miring), nomor majalah (dengan angka romawi kalau ada), bulan dan tahun penerbitan, serta nomor halaman.
Contoh:
Mochtar Naim, “Mengapa orang Minang Merantau” Tempo, 31 Januari 2001, h.12. 11L.J.Westwood, “The Role of The Teacher”, Educational Research IX No.3, Februari 2001, h.17.
c)        Surat Kabar
Republika, 29 Januari 2001, h.5.
d)       Karangan yang tidak diterbitkan
Zirmansyah, “ Keefektifan Pemahaman Konsep-Konsep Dasar Gelombang dengan Bantuan Komputer”. Perpustakaan IKIP Yogyakarta, h. 112.
e)        Wawancara
Wawancara dengan Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhamadiyah Prof. Dr. HAMKA, 12 Januari 2001.
4)        Mempersingkat catatan kaki
Jika suatu sumber telah pernah disebut dengan lengkap, yakni pada pertama kalinya, maka catatan kaki itu selanjutnya dapat dipersingkat dengan mempergunakan singkatan : ibid (kependekan dari ibidem = “pada tempat yang sama”), digunakan jika suatu kutipan diambil dari sumber lain, op. cit (kependekan dari iopere citatoi= “dalam karangan yang telah dikutip’), digunakan untuk menunjuk kepada suatu buku yang telah disebut sebelumnya namun telah diselingi oleh kutipan lain. loc. cit (kependekan dari loco citato = “dalam tempat yang telah dikutip”), digunakan kalau kita menunjuk kepada halaman yang sama dari sumber yang telah disebut. Contoh Pemakaian: ibid,op.cit., dan loc.cit.
Muhammad Muslich. 1993. Metode Kuantitatif. Jakarta: Fakultas Ekonomi-UI, h.8.
Ibid, h.15.(berarti, dikutip dari buku tersebut diatas)
Moh. Nazir, 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, h. 14.
Saifuddin Azwar. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 41.
Mar’at. 1984. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia, h.60.
Moh. Nazir, op. cit., h. 21. (artinya buku yang telah disebut diatas. Perhatikan penulisan op. cit, selain dimiringkan, juga diberi garis).
Saifuddin Azwar, loc. cit. (artinya buku yang telah disebut diatas pada halaman yang sama. Perhatikan penulisan loc. cit, selain dimiringkan juga diberi garis).
Catatan :
Cara pengutipan dengan menggunakan catatan kaki seperti diuraikan di atas, memang agak rumit dan banyak seluk beluknya, namun dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan kejujuran ilmiah para mahasiswa.



c.         Daftar Pustaka
Daftar pustaka memuat pustaka yang benar-benar diacu dalam tugas akhir.  Cara penulisan daftar pustaka menggunakan aturan APA (American Psychological Assosiation). Berikut aturan APA dalam penulisan daftar pustaka:
1)        Referensi Buku dengan Satu Penulis
a)        Nama keluarga penulis diikuti koma dan spasi
b)        Inisial nama depan (dan tengah) penulis diikuti titik setelah huruf dan spasi
c)        Tahun penerbitan terakhir dalam kurung diikuti titik dan spasi
d)       Judul buku dicetak miring (setiap huruf pertama kata-kata yang penting menggunakan huruf kapital) diikuti titik dan spasi
e)        Kota tempat publikasi diikuti titik dua dan spasi
f)         Nama penerbit (hanya nama, sebutan lain seperti PT, Inc, Ltd, Company tidak dicantumkan) diikuti titik
2)        Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari internet, pertama; tulis nama, kedua; tulis (tahun buku atau tulisan dibuat dalam tanda kurung) setelah itu beri (tanda titik), ketiga; tulis judul buku/tulisannya lalu beri (tanda titik) lagi, keempat; tulis alamat websitenya gunakan kata (from) untuk awal judul web dll setelah itu beri tanda koma, kelima; tulis tanggal pengambilan data tersebut. 
Contoh:
Albarda (2004). Strategi Implementasi TI untuk Tata Kelola Organisasi (IT Governance). From http://rachdian.com/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=27&Itemid=30, 3 August 2008   
3)        Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari buku, pertama; penulisan nama untuk awal menggunakan huruf besar terlebih dahulu setelah nama belakang ditulis beri (tanda koma), dimulai dari nama belakang lalu beri (tanda koma) dan dilanjutkan dengan nama depan, kedua; tahun pembuatan atau penerbitan buku, ketiga; judul bukunya ingat ditulis dengan mengunakan huruf miring setelah judul gunakan (tanda titik), keempat; tempat diterbitkannya setelah tempat penerbitan gunakan (tanda titik dua), dan kelima; penerbit buku tersebut diakhiri dengan (tanda titik). Contoh:
a)         Peranginangin, Kasiman (2006). Aplikasi Web dengan PHP dan MySql. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
b)         Soekirno, Harimurti ( 2005). Cara Mudah Menginstall Web Server Berbasis Windows Server 2003. Jakarta: Elex Media Komputindo.
4)        Penulisan daftar pustaka yang lebih dari satu/dua orang penulis dalam buku yang sama. Pertama  tulis nama belakang dari penulis yang pertama setelah nama belakang beri (tanda koma) lalu tulis nama depan jika nama depan berupa singkatan tulis saja singkatan itu setelah nama pertama selesai beri (tanda titik) lalu beri (tanda koma) untuk nama kedua / ketiga ditulis sama seperti nama sali alis tidak ada perubahan, yang berubah penulisannya hanya orang pertama sedangkan orang kedua dan ketiga tetap. Setelah penulisan nama kedua selesai, nah jika tiga penulis gunakan tanda dan (&) pada nama terakhir begitupula jika penulisnya hanya dua orang saja, setelah penulisan nama selesai, Kedua; tahun pembuatan atau cetakan buku tersebut dengan diawali [tanda kurung buka dan kurung tutup/ (  )] setelah itu beri (tanda titik). Ketiga; judul buku atau karangan setelah itu beri (tanda koma) dan ditulis dengan huruf miring ok.keempat; yaitu penulisan tempat penerbitan/cetakan setelah itu beri (tanda titik dua : ) dan terakhir kelima; nama perusahaan penerbit buku atau tulisan tersebut dan diakhiri (tanda titik) ok.  Untuk gelar akademik tidak ditulis dalam penulisan daftar pustaka.
Contoh:
a)    Suteja, B.R., Sarapung, J.A, & Handaya, W.B.T. (2008). Memasuki Dunia E-Learning, Bandung: Penerbit Informatika.
b)    Whitten, J.L.,Bentley, L.D., Dittman, K.C. (2004). Systems Analysis and Design Methods. Indianapolis: McGraw-Hill Education.
Perlu diingat juga untuk penulisan daftar pustaka yang banyak harus berurutan penulisannya. Nama dari sumber yang diambil sebagai daftar putaka ditulis berdasarkan urutan Abjad dari nama masing-masing tersebut, dimulai dengan Abjad A-Z itulah urutan penulisan daftar pustaka yang baik yaitu sesuai dengan urutan nama-namanya.


C.      Menyusun Proposal Skripsi
Proposal skripsi adalah karangan ilmiah yang dibuat sebelum pembuatan skripsi.  Skripsi adalah suatu karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa program sarjana strata 1 (S1) diakhir peruliahanya. Melalui karya ilmiah ini, sivitas akademika (masyarakatakademik) pada suatu perguruan tinggi dapat mengkomunikasikan ide, gagasan kajian dan hasil penelitiannya.  Tata cara penyusunan proposal skripsi adalah:
1.         Halaman Judul 
Terdiri dari judul,kata ”skripsi” secara lengkap, keperluan atau maksud ditulisnya skripsi, lambang perguruan tinggi, nama dan nomor induk mahasiswa, dan diikuti dengan nama program studi, jurusan, nama  lengkap lembaga, dan tahun lulus ujian.  Semua hruf dicetak dengan  huruf besar, kecuali keperluan atau maksud ditulisnya skripsi. Judul  ditulis dengan font 16 dan lainnya ditulis dengan font 14.  komposisi huryf dan letak masing-masing bagian diatur secara sistematis, rapi dan serasi.  

2.         Judul
Menggambarkan tentang materi skripsi secara singkat, jelas dan spesifik.
Contoh: 
SENTER DENGAN ISI ULANG DARI SUMBER ENERGI MEKANIK

3.         Pendahuluan
Pendahuluan, berisi rencana penelitian yang telah digunakan,  maksudnya, isi  pendahululuan secara kesuluruhan adalah isi rencana  penelitian yang telah dioperasionalkan dalam  pelaksanaan penelitian,  secara  garis  besar Bab  pendahuluan  terdiri atas sebab  latar  belakan  masalah, perumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, tinjauan  pustaka, kerangka berfikir, & langkah – langkah penelitian.secara teknis  pendahuluan ditempatkan pada halaman pertama.

4.         Latar Belakang Masalah
Berisi uraian tentang kenyataan yang melatarbelakangi munculnya gagasan pembuatan skripsi, antara lain berupa gambaran tentang keadaan riil lengkap dengan permasalahan yang ada yang perlu diselesaikan. Paragraf berikutnya berisi gambaran keadaan lebih baik yang diharapkan setelah masalahnya terselesaikan dan pentingnya masalah tersebut diselesaikan.
Contoh:
Perkembangan dalam dunia elektronika saat ini sudah merupakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi yang pada saat ini tengah berjalan dengan pesat seiring dengan lajunya zaman. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan manusia akan kemudahan dan efisiensi penggunaan energi dalam berbagai bidang, namun bentuk tetap ringkas serta berpenampilan menarik.
Salah satu dari sekian banyak peralatan produk teknologi adalah senter. Sejak pertama kali diciptakan hingga saat ini senter digunakan oleh manusia sebagai alat yang dapat mengeluarkan cahaya untuk membantu manusia agar dapat melihat atau mengidentifikasikan suatu benda yang berada dalam suatu tempat yang kurang mendapatkan cahaya atau bahkan tidak adanya cahaya sama sekali. Kebutuhan senter saat ini sangat dibutuhkan dalam kegiatan-kegiatan seperti navigasi darat,  poskamling, nelayan,  kebutuhan di rumah di saat mati lampu dan lain sebagainya.
Senter memang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai salah satu sumber cahaya yang praktis. Penggunaan senter tidak dapat terlepas dari ketersediaan energi pada baterai yang digunakan. Selama ini penggunaan senter sering terganggu karena kehabisan energi dari yang digunakan. Senter tersebut dapat digunakan kembali jika baterai diganti atau diisi ulang dengan mengambil energi dari jaringan listrik PLN. Hal ini akan sulit dilakukan bila cadangan baterai habis dan jauh dari jaringan listrik PLN.
Agar penggunaan senter tidak terganggu, bila tidak ada baterai cadangan atau jauh dari PLN diperlukan adanya senter yang sumber energinya tidak tergantung dari dua jenis sumber energi tersebut. Dengan kata lain diperlukan senter yang sewaktu-waktu dapat digunakan.

5.    Perumusan Masalah
Berisi tentang masalah-masalah yang akan diselesaikan, alternatif penyelesaian yang bisa dilakukan, alternatif terpilih lengkap dengan argumentasi. dilengkapi dengan keadaan yang diharapkan setelah masalah tersebut terselesaikan.
Contoh:
Pada umumnya sumber energi senter berupa baterai, baik sel kering yang satu kali pakai dibuang, atau baterai yang bisa diisi ulang dengan jaringan listrik PLN. Dengan demikian akan mengalami kendala ketika cadangan baterai habis dan jauh dari jaringan listrik PLN. Untuk mengatasi hal ini diperlukan sebuah senter yang siap digunakan setiap saat. Masalahnya adalah bagaimana mewujudkan sebuah senter yang dapat diisi ulang dengan mudah setiap saat dan dimana saja tanpa tergantung adanya jaringan listrik PLN.

6.         Tujuan Penelitian
Berisi tujuan dilakukannya penelitian atau pembuatan sebuah peralatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Contoh:
Mewujudkan sebuah senter yang dapat diisi ulang dengan mudah setiap saat dan dimana saja tanpa tergantung adanya jaringan listrik PLN.

7.         Kontribusi 
Berisi tentang manfaat hasil perancangan yang dilakukan bagi kehidupan masyarakat.
Contoh:
Senter hasil perancagan ini diharapkan dapat digunakan untuk mengatasi kendala kehabisan energi baterai yang dapat terjadi pada saat senter sebagai sumber cahaya benar-benar diperlukan pada saat cadangan baterai habis atau jauh dari jaringan PLN.

8.         Tinjauan Pustaka
Berisi tentang teori berkenaan dengan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan dan upaya penyelesaiannya. Bila diperlukan ada hipotesa bahwa masalah yang ada dapat diselesaikan dengan sistem/alat yang dibuat.
a.         Variabel terikat atau kriterium: berisi pengertian atau definisi variabel tersebut, aspek atau gejala dari variabel tersebut yang nantinya dijadikan indikator dari alat ukur yang digunakan, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya
b.        Variabel bebas atau prediktor : berisi pengertian atau definisi variabel tersebut, aspek atau gejala dari variabel tersebut yang nantinya dijadikan indikator dari alat ukur yang digunakan, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya
c.         Subjek Penelitian : untuk menggambarkan subjek penelitian — berisi pengertian, karakteristik dsb) mengenai subjek penelitian (misal : remaja, ibu rumah tangga, waria, pekerja seks komersil, dsb)
d.        Hubungan antara Variabel A dengan B atau Perbedaan pada variabel A berdasarkan variabel B : berupa dinamika yang menggambarkan keterkaitan antara variabel A clan Variabel B (baik berupa hubungan, pengaruh, atau perbedaan), sehingga nantinya dapat ditarik suatu hipotesis
e.         Hipotesis

9.         Kerangka Teoritik
Beri judul sesuai dengan isi/teori yang dibahas, misalnya MOTIVASI BELAJAR DAN DISKUSI KELOMPOK .
Bagian ini memuat komponen berikut :
a.         Teori-teori utama dan teori-teori turunannya dalam bidang yang dikaji.
b.        Penelitian terdahulu yang relevan dengan bidang yang diteliti, mengenai prosedur, subyek dan temuannya.
c.         Posisi teoretik peneliti yang berkenaan dengan masalah yang diteliti

10.     Metode Penelitian
a.         Identifikasi variabel-variabel penelitian : berisi variabel apa saja yang ada dalam penelitian tersebut
b.        Definisi operasional variabel-variabel penelitian : bentuk operasional dari variabel-variabel yang digunakan, biasanya berisi definisi konseptual, indikator yang digunakan, alat ukur yang digunakan (bagaimana cara mengukur) & penilaian alat ukur
c.         Subjek penelitian : berisi karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian, juga diberi penjelasan mengenai populasi, sampel dan teknik sampling yang digunakan
d.        Teknik pengumpulan data : teknik dan alat ukur yang digunakan dalam pengumpulan data dan setiap alat ukur yang digunakan perlu dijelaskan
e.         Validitas dan reliabilitas alat pengumpul data : berisi pengertian mengenai konsep validitas dan reliabilitas serta teknik yang dilakukan. Jika menggunakan alat ukur yang sudah ada, hasil uji validitas dan reliabilitasnya harap ditulis.
f.         Teknik analisis data : teknik yang digunakan untuk menganalisis data penelitian

11.     Sistematika Penulisan
Pada bagian ini disajikan data yang ditentukan dalam penelitian, setelah diolah dan dianalisa.  Kemudian, dilakukan pembahasan  terhadap data itu, yang  berpedoman  pada  kerangka berfikir  yang  digunakan. Biasanya, isi  bagian data dan pembahasan dibagi atas beberapa bab  atau lebih dari satu bab, pembagian ini konsisten dengan  pertanyaan  penelitian terhadap masalah penelitian yang dirumuskan, tujuan penelitian, kerangkan berfikir, yang semua dicantumkan  dalam rencana
a.         Bab pertama , merupakan bagian pendahuluan yang memuatberbagai ketentuan standar tentang penelitian ilmiah yakni , latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian , kerangka teoritik,metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
b.        Bab dua, mendeskripsikan temuan-temuan yang di peroleh di lapangan serta prosesnya.
c.         Bab tiga, merupakan bagian terpenting dari suatu penelitian karena berupaya untuk menganalisis temuan-temuan fakta dan data di lapangan.
d.        Bab empat, merupakan bagian akhir yang berisi kesimpulan dan saran serta rekomendasi.

12.     Daftar Pustaka
Ada  beberapa  istilah lain yang  dimaksud sama dengan daftar pustaka yaitu daftar bacaan, pustakan acuan, atau dalam Bahasa Inggris disebut  Bibliography dan Reference tersebut. Ada banyak cara  untuk penulisan daftar pustaka diantaranya adalah Nama penulis, tahun penerbit,  judul tulisan, volume (apabila ada), nama penerbit, dan tempat penerbitan.



                                                                               

















BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Organisasi karangan adalah pengelompokan dan pengamatan jenis fakta dan sifatnya menjadi kesatuan yang bertautan.  Tema adalah sesuatu yang menjiwai cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.  Topik adalah pokok pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan suatu artikel.  Tesis adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang memuat gagasan pokok atau pikiran tulisan.  judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan.
Penulisan Bagian Pendahuluan Karangan, terdiri dari latar belakang, masalah, ruang lingkup masalah atau perumusan masalah, tujuan pembahasan, landasan teori, kerangka pemikiran dan hipotesis, metode dan teknik penelitian, lokasi penelitian, sumber data dan sistematika penulisan. 
Penulisan bagian isi karangan terdiri dari kajian teori, objek penelitian dan pembahasan (analisis data).  Penu#lisan bagian simpulan atau penutup karangan terdiri dari iktisar, kesimpulan, saran.
Kutipan adalah proses meminjam pendapat para ahli dalam disiplin tertentu baik langsung atau pun tidak langsung yang dituangkan dalam karya ilmiah.  Jenis-jenis kutipan:  kutipan langsung dan kutipan tak langsung. Catatan kaki adalah keterangan tambahan yang terletak di bagian bawah halaman dan dipisahkan dari teks karya ilmiah oleh seah garis sepanjang dua puluh ketukan (dua puluh karakter).  Daftar Pustaka pustaka memuat pustaka yang benar-benar diacu dalam tugas akhir. 
Proposal Skripsi terdiri dari halaman judul, pendahuluan, latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kontribusi , tinjauan pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian, sistematika penulisan, daftar pustaka

B.       Saran
Apabila akan membuat suatu karangan ilmiah, sebaiknya mempelajari metodologi penulisan karangan ilmiah terlebih dahulu.  Sehingga dalam proses pembuatan karangan ilmiah, penulis tidak mengalami kesulitan dalam metodologi penulisan karangan ilmiah, khususnya bagi mahasiswa yang akan membuat tugas akhir.  Selain itu, disarankan pula untuk membaca berbagai buku metodologi penulisan karangan ilmiah sehingga pengetahuan dan wawasan mengenai metodologi penulisan semakin luas.































DAFTAR PUSTAKA


Wijaya Kusuma, Hembing.1991.Panduan Menyusun Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bhrata Karya.

Drs. Maskurun.2007. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMK. Yogyakarta: LP2IP.




,






http://www.sentra-edukasi.com/2009/11/tata-cara-aturan-penulisan-kutipan.html, 22 April 2011

http://bahasa-Indonesia-dalam-penulisan-karya-ilmiah/html/30 Maret 2011






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar